Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 11 Oktober 2011

Logika membuatku terdiam saat berjumpa dengan rasa...

Dalam ketidakmengertian ini, ingin sekali aku mendefinisikan rasa yg kembali ada....
Dalam hati yang terdiam,, ingin ku katakan pada bintang di langit-Nya..
Bahwa...
ijinkan hatiku sejenak tenggelam dalam warna warni indah pelangi kita...

ya,,jejak itu masih ada..
Lewat tulisan...yg mampu mewakilkan rasa yg begitu mendalam...
Melalui diam, yg menandakan ruang untk mendengarkan.....

Masih ingat tentang sebuah keinginan hati menatap mentari pagi dibalik jendela rumah di pinggir pantai?

Aku sedang merindukannya...

Meski aku segera tersadar, bahwa logika membuatku terdiam saat menjumpai rasa....

Rabu, 06 Juli 2011

Sekuntum Edelweis Untukmu, Aktivis Dakwah..

”Aku ingin mundur dari wasilah dakwah ini, aku sudah tidak kuat lagi menunaikan amanah yang semakin menyesakkan dadaku, aku sudah tidak kuat lagi menelan kekecewaan demi kekecewaan, batas kesabaranku telah habis“, kalimat itulah yang terlontar dari lisan salah seorang saudaraku yang biasanya terlihat tegar dan selalu mempersembahkan senyumnya setiap kali bersua denganku, tapi pagi itu seolah kesedihannya telah menghapus semua lukisan senyum di wajahnya, seakan keputus asaan telah menyedot seluruh semangat dan harapannya. Untuk sejenak aku termenung, udara dingin yang sedari tadi membekap tubuh tak kurasa lagi. 

Ah....masih belum begitu lama, seorang teman yang lainpun pernah berada pada posisi yang sama layaknya yang dialami saudaraku ini. saat itu pun begitu putus pengharapannya hingga ia pun benar-benar sudah tidak kuat lagi menanggung amanah ini dan serperti dia aku pun ingin mengakhirinya dengan cara keluar dari aktivitas ini. Aku melihat masalah yang dia hadapi pun sepertinya sama dengan temanku, kepingan–kepinngan kekecewaan dan keletihan yang akhirnya menjadi puzzle raksasa bergambar kata putus asa. 

Kelelahan adalah sebuah efek yang wajar dari aktivitas yang berulang ulang, kontinu bahkan terkadang membosankan. Keletihan adalah kenikmatan yang diberikan-Nya di sela-sela aktivitas kita karena kedatangannya membuat kita merasakan nikmatnya beristirahat, kedatangannya membuat kita memperoleh kesempatan untuk menarik nafas panjang sebelum kita kembali berlaga, namun adalah keletihan yang meraja yang akan membekap bara semangat, azam dan harapan, meredupkannya dan diam-diam memadamkannya. Oleh karenanya ketika kita bermain-main dengan keletihan, maka seyogyanya kita menjaga agar keletihan itu tidak menjadi penjara untuk perjalanan kita selanjutnya dan pada saat yang sama hendaknya kita selalu sadar akan keberadaann cawan-cawan yang berisi cairan energi yang senantiasa dihidangkan untuk kita. Sumber kekuatan yang akan membuat kita untuk tidak betah berkubang dalam lembah kefuturan, energi itu yakni keikhlasan dan indahnya ukhuwah. 

Ketika kekecewaan dan keletihan bersemayam di dada maka menyadari kembali bahwa apa yang kita lakukan adalah sebuah usaha dan pengharapan besar kita untuk menggapai rahmat dan ridho Alloh SWT, akan mengembalikan kekuatan untuk bangkit. Keikhlasan adalah tidak berbesar kepala saat pujian mengguyur , begitu pun tidak berputus asa bilamana cercaan menghujam dan menghimpit, adalah keikhlasan tidak bergantung pada makhluk yang biasanya menjadi sumber kefuturan. Sebuah keikhlasan tidak mengenal kata lelah karena segala keluh kesah senantiasa dititipkan pada angin yang membumbungkan doa dalam sujud-sujud panjang kita. Dan DIA senantiasa menyediakan “telinga-Nya” untuk kita. 

Saat tubuh tidak lagi tegak, saat kaki mulai lemah, saat lisan mulai kelu untuk menyuarakan kebenaran, maka pada saat yang sama ada saudara kita yang memapah, saudara yang akan menopang kaki yang telah rapuh, dan menggantikan kita untuk bersuara lebih lantang. Senyumnya bagai oase dalam kegersangan jiwa kita, perhatiannya adalah penentram kegundahan kita, tausyiahnya adalah semangat baru yang disematkan pada diri ini. Karena dialah kita yakin bahwa kita tidak sendirian. Andaikan saja kita layaknya sekuntum bunga edelweis yang terus mekar dalam kegersangan, terus mempersembahkan senyum dalam kesederhanaan dan kebersahajaannya, semangat abadi hidupnya dalam keterhimpitan. Ya... seperti halnya edelweis, tekad untuk memberikan sesuatu bagi kemaslahatan umat adalah ruh hidup itu sendiri sehingga ketika kita ingin keluar dari aktivitas yang menjadi media untuk tumbuh dan hidupnya ruh itu maka kita telah menyiapkan prosesi HARAKIRI untuk jiwa ini.

“Kalau yang kamu serukan kepada mereka itu, keuntungan yang mudah diperoleh dan perjalanan yang tidak berapa jauh, pastilah mereka mengikutimu, tetapi tempat yang dituju itu amat jauh terasa oleh mereka. Mereka akan bersumpah dengan (nama) Allah: "Jikalau kami sanggup tentulah kami berangkat bersama-samamu". Mereka membinasakan diri mereka sendiri dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang yang berdusta.” (QS. 9:42)

Teruntuk saudaraku dalam sisa-sisa keletihannya, teguh dan bersabarlah, 
karena sungguh Allah telah menyediakan tempat kembali yang indah bagi para tentara-Nya...

Yogyakarta, 24 Februari 2010
Soraya
"...saat teringat adik2ku,,para pejuang dakwah...bersemangatlah!! ...".

Pasangan dari Tuhan..

Pasangan Dari Tuhan…

(Tulisan ini dikirimkan oleh seorang sahabat kepadaku beberapa bulan yang lalu. Bukan bermaksud apa2, aku hanya ingin sedikit berbagi hikmah kepada teman2 semua… semoga bermanfaat. ).

*******************

Bertahun-tahun yang lalu, saya berdoa kepada Tuhan untuk memberikan saya pasangan, 
"Engkau tidak memiliki pasangan karena engkau tidak memintanya", begitu jawab Tuhan. 

Saya Tidak hanya meminta kepada Tuhan, saya menjelaskan kriteria pasangan yang saya inginkan. Saya menginginkan pasangan yang baik hati, lembut, mudah mengampuni, hangat, jujur, penuh dengan damai dan sukacita, murah hati, penuh pengertian, pintar, humoris, penuh perhatian. Saya bahkan memberikan criteria pasangan tersebut secara fisik yang selama ini saya impikan. Sejalan dengan berlalunya waktu, saya
menambahkan daftar kriteria yang saya inginkan dalam pasangan saya. Suatu malam, dalam doa, Tuhan
berkata dalam hati saya," HambaKu, Aku tidak dapat memberikan apa yang engkau inginkan."
Saya bertanya, "Mengapa Tuhan?" dan Ia menjawab, "Karena Aku adalah Tuhan dan Aku adalah Adil. Aku adalah Kebenaran dan segala yang Aku lakukan adalah benar."

Aku bertanya lagi, "Tuhan, aku tidak mengerti mengapa aku tidak dapat memperoleh apa yang aku pinta dariMu?"

Jawab Tuhan, "Aku akan menjelaskannya kepadaMu. Adalah suatu ketidak adilan dan ketidak benaran bagiKu untuk memenuhi keinginanmu karena Aku tidak dapat memberikan sesuatu yang bukan seperti engkau. Tidaklah adil bagiKu untuk memberikan seseorang yang penuh dengan cinta dan kasih kepadamu jika terkadang engkau masih kasar, atau memberikan seseorang yang pemurah tetapi
engkau masih kejam, atau seseorang yang mudah mengampuni; tetapi engkau sendiri masih suka
menyimpan dendam, seseorang yang sensitif, namun engkau sendiri tidak..."
Kemudian Ia berkata kepada saya, "Adalah lebih baik jika Aku memberikan kepadamu seseorang
yang Aku tahu dapat menumbuhkan segala kualitas yang engkau cari selama ini daripada membuat engkau membuang waktu mencari seseorang yang sudah mempunyai semuanya itu. Pasanganmu akan akan berasal dari tulangmu dan dagingmu, dan engkau akan melihat dirimu sendiri di dalam dirinya dan kalian berdua akan menjadi satu. Pernikahan adalah seperti sekolah, suatu pendidikan jangka panjang. Pernikahan adalah tempat dimana engkau dan pasanganmu akan saling menyesuaikan diri dan tidak
hanya bertujuan untuk menyenangkan hati satu sama lain, tetapi untuk menjadikan kalian manusia yang lebih baik, dan membuat suatu kerjasama yang solid. Aku tidak memberikan pasangan yang sempurna karena engkau tidak sempurna. Aku memberikanmu seseorang yang dapat menjadi lebih baik bersamamu."

Catatan ini untuk: yang baru saja menikah, yang sudah menikah, yang akan menikah, dan yang sedang mencari...

Agar Bisa Lebih Menghargai...

(Tulisan ini saya buat berdasarkan kejadian2 disekeliling saya. bukan pengalaman pribadi.. mungkin tanpa sadar,,krn hanya berupa "celetukan" tpi, smoga bisa diambil hikmahnya oleh saudari2 saya dimanapun berada...)

Dulu, saya sempat berfikir...bahwa kehadiran suami bagi seorang wanita mampu menutupi kelemahan saya, yang dengan ketelitiannya akan menutupi kecerobohan saya, yang dengan kelebihannya akan menutupi kekurangan saya. 

Saat saya harus bercapek-capek naik ke lantai atas rumah saya membawa dua sampai tiga ember pakaian yang telah dicuci untuk dijemur, kadang-kadang saya mengeluh, "Senangnya kalau punya suami, nggak usah ngangkat-ngangkat ember kayak begini". 

Saat saya harus pergi belanja ke pasar dan pulang kelelahan membawa belanjaan yang berat, saya juga mengeluh "Bahagianya punya suami, nggak mesti jalan sendirian. Nggak perlu bawa-bawa belanjaan berat kayak begini lagi." 

Saat suatu hari saya mencoba meluruskan cantelan tas yang terbuat dari besi dengan menggunakan tang, saya pun mengeluh, "Kalo punya suami... nggak harus megang-megang tang kayak gini nih, tangan pake lecet segala lagi." 

Saat saya mencoba mengganti lampu yang mati dengan yang baru, sekali lagi saya mengeluh, "Wah, enaknya punya suami, nggak mesti naik-naik tangga kayak begini benerin lampu, pake kena setrum lagi..." 

Saat saya hendak pergi ke suatu tempat yang tidak terjangkau kendaraan umum,,sempat seorang teman berkata “Coba udah punya suami,,kan ada yg nganter jemput..”.

Biasanya saya suka menimpali diri saya sendiri, "Emangnya suami tukang ngangkatin ember?!" atau "Emangnya suami tukang benerin lampu?!", "Emangnya suami apaan?!" 

Tapi itu dulu... hingga suatu hari saya bertemu dengan kakak sepupu saya beberapa waktu lalu. 

*** 

Dia seorang wanita karir, dan saya tidak menyangka akan mendapatkan pelajaran berharga darinya. 
Sepupu saya itu bercerita bahwa ia harus bekerja dari pagi sampai sore hari. Sebenarnya mungkin tidak terlalu banyak yang dia kerjakan di kantor. Hanya saja dia harus datang sebelum bosnya datang dan pulang setelah bosnya pulang. Jarak antara rumah kosnya dengan kantornya yang cukup jauh, ditambah dengan kemacetan di jalan, sangat menyita banyak waktunya. 
"Melelahkan! Kalau saat ini kakak udah punya suami dan punya anak..." katanya, "wah, susah banget deh jadi wanita karir, jadi istri, trus jadi ibu pula pada saat yang bersamaan." 
Itulah yang membuatnya mengambil keputusan bila ia menikah nanti ia akan melepaskan pekerjaannya. Ia meragukan dirinya bisa menyiapkan sarapan untuk suaminya sebelum berangkat bekerja sementara ia sendiri harus bersiap untuk pergi bekerja juga, menyediakan makan malam untuk suaminya sebelum pulang kantor padahal ia sendiri mungkin masih keletihan karena baru pulang dari kantor, itu pun kalau dia sudah pulang. Sulit baginya membayangkan bagaimana ia akan menjalankan perannya sebagai istri di rumah bila ia tetap mempertahankan pekerjaannya yang melelahkan itu. 

Mungkin tidak banyak wanita di zaman ini yang sependapat dengannya. Karena saya lihat di luar sana banyak wanita yang telah bekerja kemudian menikah tetapi tetap mempertahankan pekerjaanya. Dan (tampaknya) mereka baik-baik saja. 
Mendengar keluh-kesahnya, saya tidak merasa lebih beruntung karena pekerjaan saya di rumah lebih ringan dibandingkan pekerjaanya. Ingin rasanya waktu itu saya meyakinkan kakak sepupu saya itu bahwa pekerjaan di rumah juga tidak kalah melelahkan dengan menjadi seorang wanita karir seperti dia. Namun belum sempat saya bercerita, 
"Tapi... ada hikmahnya juga kakak ngerasain capek-capek kerja kayak gini..." katanya, "pergi pagi, pulang malem, sibuk di kantor, dan capek di jalan..." 
Dia memandang saya dengan mata yang menerawang. Sementara saya mencoba mengerti hikmah apa sebenarnya yang dia maksud. 
"Ternyata... begini toh rasanya bekerja keras, bersusah payah mencari uang buat makan. Ternyata nggak gampang! Kakak jadi bisa lebih menghargai suami kakak nanti yang nyari nafkah buat kakak..." katanya mengakhiri perbincangan hari itu. 

Kata-kata itulah yang membuat saya berhenti mengeluhkan pekerjaan-pekerjaan yang saya lakukan di rumah dan berhenti berandai-andai kalau saya punya suami maka pekerjaan saya akan lebih ringan. 
Yah, saya jadi menyadari bahwa pekerjaan suami itu jauh lebih berat dari sekadar mengangkat ember atau membawa belanjaan sehingga saya harus lebih menghargai jerih payahnya dan rela ngangkat-ngangkat sendiri. Tanggung jawabnya lebih besar dari sekadar menjaga saya dari setruman listrik atau melindungi tangan saya supaya nggak lecet sehingga saya harus lebih menghormatinya dan lebih berhati-hati menjaga diri saya sendiri. 

Tapi... saya rasa walaupun setiap wanita sanggup dan rela melakukan itu semua sendiri, sepertinya seorang suami tidak akan rela. Sehingga dialah yang akan melakukannya untuk isterinya. Dan pada saat itulah sang istri tahu apa yang harus ia lakukan untuk suaminya. 

Sekarang, saya menikmati melakukan semua pekerjaan saya di rumah. Saya hayati bagaimana pun beratnya pekerjaan itu, bagaimana pun susahnya pekerjaan itu. Supaya suatu saat nanti saya akan lebih menghargai seseorang yang akan melakukan semua itu untuk saya. 

"teman-teman seperjuangan"-ku, berjuanglah... karena ada yang sedang berjuang juga untuk kita di luar sana…”

Seberapa Besar Nilai dirimu,saudaraku..?

Kita makhluk yang paling mulia yang telah diciptakan oleh Allah SWT, makhluk yang paling kuat karena ternyata dari sekian ratus ribu sel sperma yang berjuang untuk hidup, kita lah pemenangnya. Pernahkah kita berpikir untuk memberikan berapa nilai dari diri kita? Apakah harga diri kita hanya sebatas dunia yang ingin kita kuasai, emas dan perak yang ingin kita miliki? 

Padahal jelas – jelas Rasulullah bersabda, diriwayatkan oleh At-Tirmidzi : “Dunia ini terkutuk, semua yang ada di dalamnya terkutuk, kecuali dzikir kepada Allah, hal-hal yang bersangkutan dzikir, seorang ‘alim dan seorang pelajar.” Dunia dengan emas dan peraknya, kekuasan dan jabatan yang selalu ingin kita kejar, kemewahan dengan rumah megahnya, sama sekali tidak berhak mengalirkan setetes pun air mata kita. Terkadang kita melupakan bahwa dunia ini hanyalah titipan buat kita. Demikian yang dikatakan oleh Labid, 
Harta dan keluarga tak lain adalah barang titipan, dan suatu saat barang titipan itu akan dikembalikan
Tapi sekali lagi, terkadang kita benar-benar melupakannya, selalu setiap bergantinya hari yang kita pikirkan hanyalah bagaimana agar bisa mendapatkan apa yang kita inginkan, bukan apa yang kita perlukan, dan pernahkah kita berpikir, apakah saudara-saudara kita di luar sana membutuhkan bantuan kita hanya untuk sekedar makan hari ini?, pernahkah terbersit sedikit saja dipikiran kita bahwa mereka sebenarnya meminta bantuan kita,hanya saja kita selalu membutakan mata dan menulikan telinga kita untuk mereka? 

Lalu, apakah kita juga mengetahui kalau setiap jiwa mukmin itu lebih berharga dari dunia dan seisinya?,
Dan pernahkah kita sedikit saja merenung, bahwa semua kekayaan dan kedudukan yang kita miliki bisa menangguhkan bahkan menghambat maut dari kita, dapat menolong kita dari siksa dan azabnya Allah?, Jika kita tahu jawabannya tidak, lalu kenapa kita masih selalu saja menghargai diri kita hanya sebatas harta, emas dan perak? 
Demi hidupmu, kekayaan takkan memberi manfaat kepada seorang pun ketika dada sudah tersengal dan sesak (Hatim Ath-Thai)

Pertanyaannya adalah seberapa besarkah nilai kita sebagai seorang manusia yang mulia dan manusia yang terpilih? 

Hasan Al-Bashri mengatakan, ”Jangan tentukan harga dirimu kecuali dengan surga. Jiwa orang yang beriman itu mahal, tapi sebagian dari mereka justru menjualnya dengan harga yang murah.” 
Sayangnya, hanya sebagian kecil dari kita yang menyadari kalau jiwa kita sebagai makhluk yang beriman sangatlah mahal, atau mungkin kita selalu berpikir kalau harta dan dunia ini lebih berharga dan lebih mahal dari sebuah jiwa yang beriman, sehingga yang sering kita tangisi adalah di saat kita kehilangan uang, kebakaran rumah yang mewah, kehilangan pekerjaan, kita tidak pernah merasa menyesal dan menangis ketika hati kita mulai terasa mati dan jauh dari Allah, tidak pernah ada air mata ketika kita mengingat semua dosa-dosa yang telah kita perbuat, lalu jika sudah seperti ini, apa lagi yang bisa kita harapkan untuk membantu kita di hari akhir nanti?, dan jika ketaatan kepada Rabb sudah tidak ada lagi, maka dapatkah terwujud untuk mendapatkan cinta-Nya dan bertemu dengan-Nya dalam keadaan terbaik? 

Subhanallah, ketika menuliskan artikel ini pun, saya berusaha untuk menjawab semua pertanyaan-pertanyaan yang ada, akankah keinginan untuk memiliki sebuah rumah di syurga-Nya dan engkau menjadi tetangga saya ya saudaraku, dapat terwujud? Insyaallah, Amiin..