Tampilkan postingan dengan label menikah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label menikah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 04 Oktober 2012

Nasihat Pernikahan : untukmu yag masih meragu


Membaca artikel ini, sangat berkesan. bahasanya sederhana namun menyentuh. Ya, aku tak boleh meragu...


Islam
edia
 - Sahabatku, tulisan ini memang sengaja ku tulis karena mengingatmu. Sekian tahun bersama rasanya semakin kekhawatiranku meninggi karena mengenalmu dalam menyikapi hal ini. Hal yang bernama pernikahan.

Mungkin argumenmu tentang ini telah lengkap. Referensi dan segudang acuan sudah banyak. Namun sebagai teman sangat ingin ku nyatakan ini sejujurnya dan sejelasnya, bahwa pernikahan adalah perjalanan. Ia adalah pilihan. Sebagaimana Allah SWT memberikan kita pilihan untuk berada di jalan taqwa atau kemungkaran. Memang mungkin tidak seekstrim itu juga. Tapi kelak kamu akan tahu, bahwa pernikahan akan sama dengan itu.

Seandainya pun saat ini belum ada yang menyentuh dan mendobrak rasa hatimu untuk hidup bersamanya. Atau sudah ada tapi kau masih meragukannya. Tetap ambillah pilihan. Ingat sayang, Allah selalu punya maksud baik kepada hamba-hambaNya. Jika kita mengambil keputusan untuk mencari  keridhoan Allah SWT semata dan menjalankan sunnah Nabi-Nya, meski kerikil yang nanti akan kau temui, dengan izin-Nya kerikil itu akan menjadi pembersih kakimu yang berdebu.

Waktu terus berjalan kawan. Seiring keraguanmu dan sepanjang waktu itu, sayang sekali jika tidak dimanfaatkan untuk mendapatkan tabungan kebaikan sepenuhnya dengan menambah pahala dari sebuah hubungan pernikahan.

Ya, benar. Kau tetap bisa menjalankan sholat, puasa, membaca Al-Qur’an, tahajud, dhuha dan bersedekah. Naum tetap kurang karena belum genap agamamu.

Mungkin duniamu telah begitu nyaman dan mapan. Tidak ada halangan dan ketergantungan apapun, terhadap siapapun. Sehingga kau pikir, sendiri aku masih bisa bertakwa. Namun percayalah, bersama pasanganmu nanti kamu akan merasa yakin bahwa taqwa sedekat syurga dan ia ada di depan mata.

Ini bukan hiperbola. Karena mungkin sering telah kau baca, kegagalan orang-orang dalam menjalani pernikahannya atau bahkan menyesali kesalahannya dalam memilih pasangan hidup yang tidak tepat. Tapi itu justru memang karena pernikahan adalah sistem yang telah Allah SWT rancangkan untuk manusia. Di mana setiap pembelajaran darinya, apapun itu bentuknya, jika kamu masuk dalam sistem itu maka ia akan meninggikanmu.   

Layaknya sekolah. Mungkin saja saat lulus SMA, anggapanmu kulian itu tidak penting. Atau sekarang bukan saat yang tepat untuk kuliah. Atau kau lihat banyak orang yang kuliah tapi tidak banyak perubahan kehidupan yang lebih baik dari dirinya. Atau bahkan lebih buruk. Tentu kau tahu bahwa bukan sistem atas perkuliahannya yang salah. Sekalipun benar-benar salah, bila telah kau putuskan untuk kuliah, akan selalu ada hikmah baik dari semua perjalanan pendidikanmu. Akan lebih tinggi jenjangmu. Demikian pernikahan, ia bahkan lebih kompleks dari perkuliahan. Maka pelajaran yang kau dapat pun akan lebih banyak. Sehingga leveragekeimananmu insyaAllah akan lebih besar lagi.

Namun jika kau putuskan untuk berhenti, waktu akan terus berjalan. Sementara pembelajar belum sempurna. Memang banyak orang yang sudah menikah dan belum banyak belajar dari pernikahannya. Namun mereka tetap mendapat poin lebih dari dirimu. Ya, karena mereka sudah menikah. Dan di setiap langkah pernikahan mereka itu ada pahala, tabungan kebaikan di sisi Allah SWT dalam beragam bentuknya, baik itu kesedihan yang mengundang sabar, ataupun kebahagiaan yang mengandung syukur.

Sungguh tiada yang memaksaku menulis ini untuk mu. Melainkan karena telah ku rasakan manisnya iman meski baru beberapa tetes. Sehingga ingin sekali rasanya kemanisan itu ku bagi dengan mu dan kau merasakannya pula.

Sungguh Allah menciptakan perintah menikah ini agar kita bahagia. Ambillah apa yang telah ditentukan Allah SWT. Berserahlah kepada-Nya dan putuskan. Tiada yang tahu umur kita sampai kapan. Maka di setiap detiknya raihlah kebaikan. Jangan lagi kau lihat orangnya. Biar Allah SWT yang pilihkan. Lihatlah ia sebagai utusan dari sang Maha Penyayang untuk membimbingmu berjalan bersama ke syurga-Nya.

Jika kau meminta dari ku garansi. Maka akan ku pastikan bahwa tiadalah Allah menciptakan segala kejadian itu sia-sia. Allah SWT selalu punya rencana yang baik untuk kita. Maka banyaklah berserah pada-Nya dengan tetap mengambil tindakan seperti apa yang ia perintahkan. Sebab sebaik-baik perintah bagi orang beriman yang lajang adalah menikah. Ialah penyempurna agama. Dan ketahuilah sahabatku, jika kau dapat merasakan besarnya rasa sayangku kepadamu saat ini, sungguh sayang Allah SWT lebih besar lagi. Maka menikahlah, hanya karena-Nya. Bergegaslah meraih keridhoan-Nya. Karena inilah sebaik-baik hal yang perlu dipergegas.

Bayyinah Ainur

Selasa, 04 September 2012

Mengeja sebuah Cinta...


Suatu siang, kamis 30 Agustus 2012 sekitar pukul 12.15 aku menelpon mama di Lampung. Ingin mengabarkan bahwa sidang tesisku hari in berjalan lancar dan mendapatkan nilai maksimal. Alhamdulillaah. Namun, 3x kali kucoba, tidak ada yang mengangkat. Akhirnya, aku coba telpon ke hp bapak, tak perlu menunggu lama langsung diangkat. Sebelum aku menyampaikan maksudku ke bapak, bapak sudah lebih dulu menjelaskan bahwa mama sedang “rewang” ke tetangga yang beberapa hari lagi akan menikahkan anaknya dan HP mama tertinggal dirumah, bapak sedang menerima tamu sehingga tidak bisa langsung mengangkat telpon dariku. 



Well, kembali ke topik. Aku mengabarkan tentang kelulusanku kepada bapak. Juga sedikit “curhat” betapa bahagianya aku saat itu.. Mmm.. diluar dugaan, bapak yang selama ini sedikit sekali “bercerita” (karena kalo di telpon biasanya cuma nanya seputar : “Lagi dimana?”, “sudah makan?”, “Hati-hati di jalan”, “sudah bapak transfer”, dan pertanyaan singkat yang menunjukkan bahwa beliau perhatian padaku), kali ini lain. Cukup panjang dan begitu berkesan. Di telpon, beliau berkata “ Alhamdulillaah.. akhirnya anak bapak jadi master. Semoga ilmunya bermanfaat dan berkah. Satu kewajiban bapak sudah selesai, yaitu menyekolahkanmu, tinggal satu lagi yang belum yaitu “Ankahtuka wa zawwajtuka makhtubataka binti Abdul Latif alal Mahri... “.  



Cukup lama aku hening dan berpikir maksud dari kalimat bapak, terutama yang terakhir. Maklum saja, dalam pikiranku masih dipenuhi kilas balik sidang tesis tadi. Lama-lama aku mulai “loading” dan merasa pernah mendengar kalimat sejenis itu.. Ya! Itu kalimat yang diucapkan dalam ijab-Qobul Pernikahan. Mmm...belum sempat aku berkomentar, bapak melanjutkan lagi kalimatnya :” ..terus nanti calon suamimu bilang ‘Qobiltu nikahaha wa tazwijaha alal mahril madzkuur wa radhiitu bihi, wallahu waliyut taufiq.. ‘, setelah itu selesai sudah kewajiban bapak terhadapmu.....

Hening sesaat. Aku “speechless”. Lalu aku menjawab “ Aamiinn.. InsyaAllah pak..”, kemudian aku pamit dan berpesan bahwa aku ingin bicara dengan mama setelah beliau sampai di rumah. Telpon ditutup.

Meski pembicaraan ditelpon telah selesai, tapi kalimat2 itu masih terekam dengan jelas dalam pikiran dan hatiku. Selama ini, bapak belum pernah secara lugas dan jelas menyatakan hal tersebut. Ternyata beliau hanya menunggu “moment” yang pas, yaitu kelulusan S2-ku. Antara bahagia dan terharu.



Aku begitu merasakan cinta seorang bapak yang mungkin terkadang tertutupi dengan kesibukan beliau dan sikap bapak sebagai seorang “laki-laki” yang jarang mengekspresikan cinta dan kasih sayang secara langsung. Alhamdulillaah...
Dalam hati mengeja hikmah karunia-Nya...bagaimana bedanya ekspresi kasih sayang seorang bapak dan mama, indah dengan segala ke-khas-an nya. Maha suci Allah yang telah menciptakan Laki-laki dan Wanita dengan semua kelebihan dan kekurangannya yang saling melengkapi.

Bapak yang mengajarkan aku naik sepeda, tapi tetap akan mengantarkan aku kemanapun aku pergi ketika di Lampung (ketika beliau tidak sibuk). Bukan tidak mempercayaiku, tapi beliau hanya ingin memastikan bahwa aku baik-baik saja.
Bapak yang memperhatikan HP-ku jika rusak atau sudah saatnya dibelikan yang baru. Kata beliau, “ Komunikasi itu penting. Apalagi kamu jauh. Anak yang baik adalah selalu menjaga komunikasi dengan keluarganya”.
Bapak yang selalu mengingatkan aku “ ..jika kamu akan menentukan pasangan hidupmu, selain sholih, lihat bagaimana ia bersikap dan memuliakan keluarganya, dan bagaimana ia menghormati wanita. Menghormati wanita dengan menjaga perasaannya dan berhati-hati dalam memberikan janji.. “.
...Atau, bapak yang selalu mengatakan : “ ....kamu sudah dewasa, selama itu baik menurutmu dan agama.. InsyaAllah bapak mendukung..”.

Begitulah cinta seorang bapak, yang selalu menjadi “cinta pertama” anak perempuannya sebelum ia mencintai suaminya....




Tulisan yang kudedikasikan untuk Bapak,
Sagan, Yogyakarta. 4 September 2012

Soraya binti Abdul Latif